KERIS SEBAGAI BENDA BERSEJARAH
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu : Maftukhah, M. Si.
![]() |
Disusun Oleh :
Roihanatul Mustafidah (103611021)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI WALISONGO
SEMARANG
2013
KERIS SEBAGAI BENDA BERSEJARAH
I.
PENDAHULUAN
Negara kita adalah negara kesatuan dimana
terdiri dari bebrapa pulau dan disertai adat istiadat dan budaya masyarakat
yang berbeda pula. Dari budaya-budaya yang berbeda itupun terlahir beraneka
ragam hasil karya. Misalkan, tarian, tradisi dan benda-benda. Dari sekian
banyak karya yang salah satunya berupa benda adalah keris.
Keris, sebagian besar orang menyebutnya
sebagai senjata dan sebagian lagi menyebutnya sebagai benda berharga yang
mempunyai daya magis tinggi. Namun dalam hal ini, penulis mengartikan
keris sebagai senjata tikam yang berbentuk asimetris, bermata dua dan berasal
dari budaya Jawa. Dari tempat asalnya, keris kemudian menyebar ke Pulau Bali,
Lombok, Kalimantan, dan bahkan hingga Brunei Darussalam, Malaysia, dan Pulau
Mindanao di Filipina. Dari hanya sinjata tikam, keris kemudian berkembang
menjadi simbol status sosial dan simbol kejantanan atau kekuasaan bagi
pemiliknya.[1]
Untuk lebih jelasnya dalam mengenal keris,
sejarah, makna filosofi, maam-macamnya dan fungsi dari keris itu sendiri. Marilah
kita simak beberapa penjelasan yang ada di bawah ini.
II.
PEMBAHASAN
A. Sejarah Keris
Sejarah keris sampai sekarang belum ada
kejelasan mana yang pasti kapan itu keris dibuat pertama kali. Karena tidak ada sumber tertulis yang deskriptif mengenainya dari
masa sebelum abad ke-15, meskipun penyebutan istilah "keris" telah
tercantum pada prasasti dari abad ke-9 Masehi. Kajian ilmiah perkembangan
bentuk keris kebanyakan didasarkan pada analisis figur di relief candi atau
patung. Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi keris dapat dilacak dari
beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.
Keris adalah khazanah budaya yang cukup
istimewa. Gambar timbul (relief) yang paling kuna memperlihatkan besi telah
wujud semasa pembentukan prasasti batu yng ditemui di Desa Dakuwu, di daerah
Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti ini menggunakan huruf pallawa[2] dan
mempunyai gambar-gambar seperti kapak, sabit, belati, pisau dan keris. Ini
menunjukkan masyarakat Islam Nusantara pada masa itu telah mencipta seni pahat
yang bernilai tinggi.[3]
Prasasti itu menyebutkan tentang adanya sebuah mata air yang bersih
dan jernih. Di atas tulisan prasasti itu ada beberapa gambar, di antaranya:
trisula, kapak, sabit kudi, dan belati atau pisau yang bentuknya amat mirip
dengan keris buatan Nyi Sombro, seorang empu wanita dari zaman Pajajaran. Ada pula
terlukis kendi,
kalasangka,danbungateratai.
Kendi, dalam filosofi Jawa Kuno adalah lambang ilmu pengetahuan, kalasangka melambnagkan keabadian, sedangkan teratai lambang harmoni alam.
kalasangka,danbungateratai. Kendi, dalam filosofi Jawa Kuno adalah lambang ilmu pengetahuan, kalasangka melambnagkan keabadian, sedangkan teratai lambang harmoni alam.
Ada beberapa teori yang menjelaskan kapan
keris itu ada di Indonesia.[4]
1.
G.B. Gardner pada tahun 1936 pernah berteori bahwa keris
adalah perkembangan bentuk dari senjata tikam zaman prasejarah, yaitu tulang
ekor atau sengat ikan pari dihilangkan pangkalnya, kemudian dibalut dengan kain
pada tangkainya. Dengan begitu senjata itu dapat digenggam dan dibawa-bawa.
Maka jadilah sebuah senjata tikam yang berbahaya, menurut ukuran kala itu.
2.
Griffith Wilkens pada tahun 1937 berpendapat bahwa budaya keris
baru timbul pada abad ke-14 dan 15. Katanya, bentuk keris merupakan pertumbuhan
dari bentuk tombak yang banyak digunakan oleh bangsa-bangsa yang mendiami
kepulauan antara Asia dan Australia. Dari mata lembing itulah kelak timbul
jenis senjata pendek atau senjata tikam, yang kemudian dikenal dengan nama
keris. Alasan lainnya, lembing atau tombak yang tangkainya panjang, tidak mudah
dibawa kemana-mana. Sukar dibawa menyusup masuk hutan. Karena pada waktu itu tidak mudah orang
mendapatkan bahan besi, maka mata tombak dilepas dari tangkainya sehingga
menjadi senjata genggam.
3.
A.J. Barnet Kempers. Pada tahun 1954 ahli purbakala itu menduga
bentuk prototipe keris merupakan perkembangan bentuk dari senjata penusuk pada
zaman perunggu. Keris yang hulunya berbentuk patung kecil yang menggambarkan
manusia dan menyatu dengan bilahnya, oleh Barnet Kempers bukan dianggap sebagai
barang yang luar biasa. Katanya,
senjata tikam dari kebudayaan perunggu Dong-son juga berbentuk mirip itu. Dulunya
merupakan patung kecil yang menggambarkan manusia sedang berdiri sambil
berkacak pinggang (malang-kerik, bahasa
Jawa). Sedangkan senjata tikam kuno yang pernah
ditemukan di Kalimantan, pada bagin hulunya juga distilir dari bentuk orang
berkacak pinggang. Perkembangan bentuk dasar senjata tikam itu daat
dibandingkan dengan perkembangan senjata di Eropa. Di benua itu, pedang juga
distilir dari bentuk manusia dengan kedua tangan terentang lurus ke
samping.
Perkembangan bentuk dasar senjata tikam itu dapat dibandingkan dengan perkembangan bentuk senjata di Eropa. Di benua itu, hulu[5], pedang juga distilir dari bentuk manusia dengan kedua tangan terentang lurus ke samping. Bentuk hulu pedang itu, setelah menyebarnya agama Kristen, kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang serupa salib.
Perkembangan bentuk dasar senjata tikam itu dapat dibandingkan dengan perkembangan bentuk senjata di Eropa. Di benua itu, hulu[5], pedang juga distilir dari bentuk manusia dengan kedua tangan terentang lurus ke samping. Bentuk hulu pedang itu, setelah menyebarnya agama Kristen, kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang serupa salib.
Dalam kaitannya
dengan bentuk keris di Indonesia, hulu keris yang berbentuk manusia (yang
distilir), ada yang berdiri, ada yang membungkuk, dan ada pula yang berjongkok,
Bentuk ini serupa dengan patung megalitik yang ditemukan di Playen, Gunung
Kidul, Yogyakarta. Dalam
perkembangan kemudian, bentuk-bentuk itu makin distilir lagi dan kini menjadi
bentuk hulu keris (Di Pulau Jawa disebut deder,
jejeran, atau ukiran) dengan ragam hias cecek, patra gandul, patra ageng,
umpak-umpak, dlsb.
Dalam sejarah
budaya kita, patung atau arca orang berdiri dengan agak membungkuk, oleh
sebagian ahli, diartikan sebagai lambang orang mati. Sedangkan patung yang
menggambarkan manusia dengan sikap sedang jongkok dengan kaki ditekuk, dianggap
melambangkan kelahiran, persalinan, kesuburan, atau kehidupan. Sama dengan
sikap bayi atau janin dalam kandungan ibunya.
4.
Sebagian
ahli bangsa Barat yang tidak yakin bahwa keris sudah dibuat di Indonesia
sebelum abad ke-14 atau 15. Mereka mendasarkan teorinya pada kenyataan bahwa
tidak ada gambar yang jelas pada relief candi-candi yang dibangun sebelum abad
ke-10. Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java (1817) mengatakan, tidak kurang dari
30 jenis senjata yang dimiliki dan digunakan prajurit Jawa waktu itu, termasuk
juga senjata api. Tetapi dari aneka ragam senjata itu, keris menempati
kedudukan yang istimewa.
5.
Sementara itu istilah ‘keris’ sudah dijumpai pada beberapa prasasti
kuno. Lempengan perunggu bertulis yang ditemukan di Karangtengah, berangka
tahun 748 Saka, atau 842 Masehi, menyebut-nyebut beberapa jenis sesaji untuk menetapkan Poh
sebagai daerah bebas pajak, sesaji itu antara lain berupa ‘kres’, wangkiul, tewek punukan,
wesi penghatap.
6.
Pada lukisan gambar timbul (relief) Candi Borobudur, Jawa Tengah,
di sudut bawah bagian tenggara, tergambar beberapa orang prajurit membawa
senjata tajam yang serupa dengan keris yang kita kenal sekarang. Di Candi
Prambanan, Jawa Tengah, juga tergambar pada reliefnya, raksasa membawa senjata
tikam yang serupa benar dengan keris. Di Candi Sewu, dekat Candi Prambanan,
juga ada. Arca raksasa penjaga, menyelipkan sebilah senjata tajam, mirip keris.
7.
Sementara itu edisi pertama dan kedua yang disusun oleh
Prof. P.A Van Der Lith menyebutkan, sewaktu stupa induk Candi Borobudur, yang
dibangun tahun 875 Masehi, itu dibongkar, ditemukan sebilah keris tua. Keris itu menyatu antara bilah dan hulunya. Tetapi bentuk keris itu
tidak serupa dengan bentuk keris yang tergambar pada relief candi. Keris temuan
ini kini tersimpan di Museum Ethnografi, Leiden, Belanda. Keterangan mengenai
keris temuan itu ditulis oleh Dr. H.H. Juynbohl dalam Katalog Kerajaan
(Belanda) jilid V, Tahun 1909. Di katalog itu dikatakan, keris itu tergolong
‘keris Majapahit‘, hulunya berbentuk patung orang, bilahnya sangat tua. Salah
satu sisi bilah telah rusak. Keris, yang diberi nomor seri 1834, itu adalah
pemberian G.J. Heyligers, sekretaris kantor Residen Kedu, pada bulan Oktober
1845. Yang menjadi residennya pada waktu itu adalah Hartman. Ukuran panjang
bilah keris temuan itu 28.3 cm, panjang hulunya 20,2 cm, dan lebarnya 4,8 cm.
Bentuknya lurus, tidak memakai luk. Mengenai
keris ini, banyak yang menyangsikan apakah
sejak awalnya memang telah diletakkan di tengah lubang stupa induk Candi
Borobudur. Barnet Kempres sendiri menduga keris itu diletakkan oleh seseorang
pada masa-masa kemudian, jauh hari setelah Candi Borobudur selesai dibangun.
Jadi bukan pada waktu pembangunannya.
8.
Ada pula yang menduga, budaya keris sudah berkembang sejak
menjelang tahun 1.000 Masehi. Pendapat ini didasarkan atas laporan seeorang
musafir Cina pada tahun 922 Masehi. Jadi laporan itu dibuat kira-kira zaman
Kahuripan berkembang di tepian Kali Brantas, Jawa Timur. Menurut laporan itu,
ada seseorang Maharaja Jawa menghadiahkan kepada Kaisar Tiongkok "a short swords with
hilts of rhinoceros horn or gold (pedang
pendek dengan hulu terbuat dari dari cula badak atau emas). Bisa jadi pedang
pendek yang dimaksuddalam laporan itu adalah protoptipe keris seperti yang
tergambar pada relief Candi Borobudur dan Prambanan.
9.
Sebilah keris yang ditandai dengan angka tahun pada bilahnya,
dimiliki oleh seorang Belanda bernama Knaud di Batavia (pada zaman Belanda
dulu). Pada bilah keris itu selain terdapat gamabar timbul wayang, juga
berangka tahun Saka 1264, atau 1324 Masehi. Jadi kira-kira sezaman dengan saat
pembangunan Candi Penataran di dekat kota Blitar, Jawa Timur. Pada candi ini
memang terdapat patung raksasa Kala yang menyandang keris pendek lurus.
10. Gambar yang
jelas mengenai keris dijumpai pada sebuah patung siwa yang berasal dari zaman
Kerajaan Singasari, pada abad ke-14. Digambarkan dengan Dewa Siwa sedang
memegang keris panjang di tangan kanannya. Jelasini bukan tiruan patung Dewa
Siwa dari India, karena di India tak pernah ditemui adanya patung Siwa memegang
keris. Patung itu kini tersimpan di Museum Leiden, Belanda.
11. Pada
zaman-zaman berikutnya, makin banyak candi yang dibangun di Jawa Timur, yang
memiliki gambaran keris pada dinding reliefnya. Misalnya pada Candi Jago atau
Candi Jajagu, yang dibangun tahun 1268 Masehi. Di candi itu terdapat relief
yang menggambarkan Pandawa (tokoh wayang) sedang bermain dadu. Punakawan yang
terlukis di belakangnya digambarkan sedang membawa keris. Begitu pula pada
candi yang terdapat di Tegalwangi, Pare, dekat Kediri, dan Candi Panataran.
Pada kedua candi itu tergambar relief tokoh-tokoh yang memegang keris.
12. Dalam laporan seorang musafir Cina bernama Ma Huan. Laporannya Yingyai Sheng-lan di tahun 1416 Masehi ia menuliskan
pengalamannya sewaktu mengunjungi Kerajaan Majapahit. Ketika itu ia datang
bersama rombongan Laksamana Cheng-ho atas perintah Kaisar Yen Tsung dari
dinasti Ming. Di Majapahit, Ma Huan menyaksikan bahwa hampir semua lelaki di
negeri itu memakai pulak, sejak masih kanak-kanak, bahkan sejak
berumur tiga tahun. Yang disebut pulak oleh Ma Huan adalah semacam belati lurus
atau berkelok-kelok. Jelas ayang dimaksud adalah keris.
Kata Ma Huan
dalam laoparan itu: These
daggers have very thin stripes and within flowers and made of very best steel;
the handle is of gold, rhinoceros, or ivory, cut into the shapeof human or
devil faces and finished carefully.
Laporan ini membuktikan bahwa pada zaman itu telah dikenal teknik pembuatan senjata tikam dengan hiasan pamor dengan gambaran garis-garis amat tipis serta bunga-bunga keputihan. Senjata ini dibuat dengan baja berkualitas prima. Pegangannya, atau
hulunya, terbuat dari emas, cula badak, atau gading.
Laporan ini membuktikan bahwa pada zaman itu telah dikenal teknik pembuatan senjata tikam dengan hiasan pamor dengan gambaran garis-garis amat tipis serta bunga-bunga keputihan. Senjata ini dibuat dengan baja berkualitas prima. Pegangannya, atau
hulunya, terbuat dari emas, cula badak, atau gading.
13. Gambar timbul mengenai cara pembuatan keris,
dapat disaksikan di Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, di perbatasan Jawa
Tengah dan Jawa Timur. Pada candra sengkala
memet di candi itu, terbaca angka tahun 1316 Saka atau 1439 Masehi. Cara
pembuatan keris digambarkan di candi itu tidak jauh dengan cara pembuatan keris
pada zaman sekarang. Baik peralatan kerja, palu dan ububan, maupun hasil
karyanya berupa keris, tobak, kudi, dll.
Dari sekian teori di atas, tidak selalu benar. Bagi sebagian besar pecinta
keris di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, teori –teori yang dikemukakan oleh
para ahli Barat itu banyak sekali mengandung kelemahan, dan terkadang bahkan
tidak logis.
Satu hal yang tidak ‘tertangkap’ dalam alam pikir para ahli Barat, adalah
bahwa keris dibuat orang (para empu) sama sekali bukan dengan maksud untuk
digunakan sebagai alat pembunuh. Banyak
buku yang ditulis orang Barat menyebut keris sebagai salah satu senjata tikam
atau stabbing weapons.
Buku-buku Barat pada umumnya memberi kesan bahwa keris serupa atau sama saja
dengan belati atau ponyard (poignard).
Padahal ada
perbedaan sangat besar dan mendasar di antara mereka. Belati, sangkur, atau
poyard memang sengaja dibuat untuk menusuk lawan, melukai atau membunuhnya,
sedangkan keris tidak. Keris dibuat terutama untuk digunakan sebagai pusaka
atau sipat kandel, yang
dipercaya dapat melindungi serta memberi keselamatan dan kesejahteraan
pemiliknya.
Kekeliruan lain
yang terasa agak menyakitkan hati, adalah penyebutan keris-keris sajen sebagai keris Majapahit oleh sebagian
buku yang ditulis oleh orang Barat. Bagi orang Indonesia, terutama suku bangsa
Jawa, keris Majapahit adalah salah satu produk budaya yang indah dan relatif
sempurna -- yang sama sekali tidak dapat disamakan dengan keris sajen yang dibuat amat sangat sederhana.
Dari uraian ringkas di atas, cukup beralasan bagi kita kalau memperkirakan
bahwa keris sudah mulai dibuat di Indonesia, Di Pulau Jawa, pada abad ke-5 atau
6. Tentu saja dalam bentuk yang masih sederhana.
Keris mencapai
bentuknya seperti yang kita kenal sekarang, diperkirakan baru pada sekitar abad
ke-12 atau 13. Budaya keris mencapai puncaknya pada zaman Kerajaan Majapahit,
seperti yang telah dilaporkan oleh Ma Huan. Pada kala itulah budaya keris
menyebar sampai ke Palembang, Riau, Semenanjung Malaya, Brunei Darussalam,
Filipina Selatan, Kamboja atau Champa, bahkan sampai ke Surathani dan Pathani
di Thailand bagian selatan.[6]
B. Makna Filosofis
Keris sendiri memiliki banyak filosofi yang
masih erat dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat Jawa. Makna filosofis
yang terkandung dalam sebuah keris sebenarnya bisa dilihat mulai dari proses
pembuatan hingga menjadi sebuah pusaka bagi pemiliknya.
Seiring berjalannya waktu dan modernisasi, kita
sadari bahwa perlu dilakukan pelestarian terhadap warisan leluhur ini agar
tidak terkikis akan perkembangan jaman, keris atau dalam bahasa jawa
disebut tosan
aji, merupakan penggalan dari kata tosan yang berarti besi dan aji berarti
dihormati, jadi keris merupakan perwujudan yang berupa besi dan diyakini bahwa
kandungannya mempunyai makna yang harus dihormati, bukan berarti harus
disembah-sembah tetapi selayaknya dihormati karena merupakan warisan budaya
nenek moyang kita yang bernilai tinggi.
Bila kita merunut dari pembuatnya atau yang
disebut empu,
ini mempunyai sejarah dan proses panjang dalam membuat atau menciptakan suatu
karya yang mempunyai nilai estetika yang tinggi. Empu menciptakan keris bukan
untuk membunuh tetapi mempunyai tujuan lain yakni sebagai piyandel
atau pegangan yang diyakini menambah kewibawaan dan rasa percaya
diri, ini dapat dilihat dari proses pembuatannya pada zaman dahulu. Membuat
keris adalah pekerjaan yang tidak mudah, membutuhkan sebuah keuletan,
ketekunan, dan mental yang kuat, sehingga para pembuat harus meminta petunjuk
dari Tuhan melalui laku berpuasa, tapa /
bersemadi dan sesaji untuk mendapatkan bahan baku.
Posisi keris sebagai pusaka mendapat perlakuan
khusus mulai dari proses menyimpan, membuka dari sarung sampai dengan
merawatnya, hal ini sudah merupakan tradisi turun temurun yang masih dilakukan
oleh masyarakat Jawa yang masih meyakini. Kekuatan spiritual didalam keris
diyakini dapat menimbulkan satu perbawa atau sugesti kepada
pemiliknya. Menilik Pada masa kerajaan Majapahit, keris terbagi menjadi 2
kerangka yang saat ini masih menjadi satu acuan si empu atau pembuat keris, yakni
rangka Gayaman dan rangka Ladrang/Branggah. Saat ini rangka Gayaman banyak
dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Yogjakarta dan rangka Ladrang banyak
dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Surakarta.
Nilai atau makna filosofis sebuah keris bisa
pula dilihat dari bentuk atau model keris, atau yang disebut dengan istilah dapur.
Selain dari dapurnya, makna-makna filosofi keris juga tecermin dari pamor
atau motif dari keris itu sendiri. Keris bukan lagi sebagai senjata, namun
masyarakat Jawa memaknai bahwa keris sekarang hanya sebagai ageman
atau hanya dipakai sebagai pelengkap busana Jawa yang masih mempunyai nilai
spiritual religius, dan sebagai bukti manusia yang lahir, hidup dan kembali bersatu
kepada Tuhan sebagai Manunggaling Kawulo Gusti.[7]
Selain itu pula, secara jarwo dosok atau makna
dari pemenggalan kata, keris juga memiliki maksa filosofi yaitu:[8]
Keris, kata ini dapat kita jarwa dosok-kan ke
dalam dua suku kata sebagaimana yang dijabarkan berikut ini. Ke dari
asal kata kekeran, yang mempunyai arti; pagar, penghalang, peringatan
atau pengendalian. Ris dari asal kata aris,
yang mempunyai arti ; tenang, lambat atau halus. Dengan berlandaskan pada
penjabaran tersebut, sang empu sebagai pembuat keris tersebut menginginkan agar
hasil karyanya itu selalu dapat “ngeker” atau memagari dan menghalangi maupun
memperingatkan juga mengendalikan sang pemilik secara “aris” atau tenang dan
lambat-sabar. Artinya walaupun kita mempunyai kepandaian, kekayaan dan
sejenisnya, hendaknya kita tidak “grusa-grusu” atau tergesa-gesa untuk
memamerkannya pada orang lain, agar dirinya tenar dan diketahui oleh semua
orang bahwa dia mempunyai kelebihan.
Banyak makna filosofi dari keris, diantaranya
adalah:
1.
Keris mengajarkan kita untuk menyimpan atau
mengesampingkan ego dan amarah. Ini dimaksudkan secara tersirat dan tersurat
dalam ajaran leluhur kita, bahwa agar kita dalam hal berfikir,berpendapat dan
bertindak diharapkan dapat lebih bijaksana, serta perlunya menjaga akhlak dan
tepo seliro kita terhadap sesama. Karena dengan menaruh dibelakang posisi keris
diharapkan kita membelakangkan emosi,ego,amarah dalam serawung,pertemanan
ataupun persahabatan baik didunia nyata maupun dunia maya. Tapi tetap dengan
menunjukkan ketegasan dan kesantunan juga keberanian pada tempatnya dan pada
saatnya. Dan ini menunjukkan bahwa kita memiliki dan mengedepankan etika,
estetika dalam pergaulan,membuat perasaan nyaman bagi teman-teman di sekitar
kita.
2.
Keris dan warangka sebagai filosofi dimensi
spiritual. Karena masing –masing sudah mengetahui tugas dan kewajibannya.
Dimana manusia, selain saling hormat menghormati,tepo seliro,mawas diri antara
yang satu dengan yang lainnya, juga harus tahu diri untuk berkarya sesuai
dengan porsi dan fungsinya masing-masing secara benar dan bertanggung jawab.[9]
3.
Keris sendiri dalam kultur Jawa dipandang dan
diperlakukan sebagai simbol dan juga status bagi pemiliknya. Hampir setiap
keluarga aristokrat Jawa, dapat dipastikan mereka memiliki keris pusaka
keluarga, yang memiliki keampuhan-keampuhan yang khas atau keistimewaan khusus
dalam dapur,ricikan,maupun katiyasan atau sabda doanya.
4.
Keris juga kita akui sebagai bentuk senjata.
5.
Keris dianggap sebagai peninggalan berharga dan
istimewa atau bisa dianggap sebagai pusaka wasiat.
6.
Keris sebagai lambang identitas pribadi.
Sebilah keris erat kaitannya dengan identitas seseorang,terutama dalam
cerita,hikayat maupun sejarah. Sebagai contoh keris empu gandring adalah
kerisnya ken arok,keris naga sasra sabuk inten kerisnya mahesa jenar.
7.
Keris marupakan manifestasi doa dan sabda.
Dalam dunia tosan aji, manusia Jawa merumuskan doa yang diwujudkan dalam
sebentuk pusaka keris. Doa itu dilantunkan dalam laku, mulai tapa, matiraga,
tapa bisu, dan lainnya. “Jadi keris sesungguhnya dalam filosofinya sebagai
media untuk mengantarkan sugesti dari doa. Cita-cita dan harapan manusia Jawa
dimantramkan dan disimpan dalam keris,seolah olah sang empu merekam dan menanam
sabda dan doanya dalam sebilah keris. Yang dimana keris tsbt tidak jarang mjd
sebuah keyakinan dan buku hidup.
8.
Wujud keris yang lurus maupun ber-lekuk
memiliki makna masing-masing, keris (berlekuk) adalah simbol
kebijaksanaan,dimana bila kita hidup maka kita harus menghindari hal-hal buruk
yang bertentangan dengan hukum negara, hukum adat dan hukum ketuhanan.
sedangkan keris lurus adalah simbol keteguhan prinsip, apabila kita melangkah
harus mantap dan lurus dalam fikiran, perkataan dan perbuatan. Kebijaksanaan
dan tekad itu harus seimbang dan akhirnya bermuara ke atas (Tuhan). Karena itu,
keris ujungnya lancip,” Dan secara singkatnya, masing-masing lekuk melambangkan
filosofi sebagai berikut:[10]
a.
Keris Lurus melambangkan kepercayaan diri dan
mental yang kuat.
b.
Keris Luk 3 melambangkan keberhasilan
cita-cita.
c.
Keris Luk 5 melambangkan dicintai oleh banyak
orang.
d.
Keris Luk 7 melambangkan kewibawaan.
e.
Keris Luk 9 melambangkan kewibawaan, kharisme
dan kepempiminan.
f.
Keris Luk 11 melambangkan kemampuan untuk
mencapai pangkat tinggi.
g.
Keris Luk 13 melambangkan : kehidupan stabil dan
tenang.
9.
Keris sebagai falsafah. Bentuk dhapur dan corak
pamor yang beraneka ragam memiliki nilai falsafah, dhapur brojol= penggapaian
cita-cita, pamor pedaringan kebak= harapan sukses akan material, dan lain
sebagainya. Luk 11,contoh Dapur Sabuk Inten, merupakan salah satu dapur keris
yang melambangkan kemakmuran dan atau kemewahan. Dari aspek filosofi, dapur
Sabuk Inten melambangkan kemegahan dan kemewahan yang dimiliki oleh para
pemilik modal, pengusaha, atau pedagang pada zaman dahulu.
Luk 13,contoh Dapur Sengkelat mengandung makna nyala (kehidupan) hati, maksudnya adalah perilaku yang luhur, dimana setiap siang dan malam kita selalu waspada dalam keadaan apapun. Dan juga keris-keris yang lain memiliki makna dan filosofi masing-masing.[11]
Luk 13,contoh Dapur Sengkelat mengandung makna nyala (kehidupan) hati, maksudnya adalah perilaku yang luhur, dimana setiap siang dan malam kita selalu waspada dalam keadaan apapun. Dan juga keris-keris yang lain memiliki makna dan filosofi masing-masing.[11]
C. Macam-Macam Keris
Keris mempunyai beraneka ragam jenisnya. Baik
berdasarkan dapur, pamornya maupun asal
dari keris itu sendiri. Berikut berdasarkan dapur menurut pakem Jawa:
3. Tilam Upih 4. Jalak
5. Panji Anom 6. Jaka Supa
5. Panji Anom 6. Jaka Supa
7. Semar Betak 8. Regol
9. Karna Tinanding 10. Kebo Teki
9. Karna Tinanding 10. Kebo Teki
11. Kebo Lajer
atau Mahesa Lajer
12. Jalak Ruwuh 13. Sempane Bener
14. Jamang Murub 15. Tumenggung
16. Pantrem 17. Sinom Worawari
18. Condong Campur 19. Kalamisani 20. Pasopati
21. Jalak Dinding 22. Jalak Sumelang Gandring
23. Jalak Ngucup Madu 24. Jalak Sangu Tumpeng
25. Jalak Ngore 26. Mundarang
27. Yuyu Rumpung 28. Mesem
29. Semar Tinandu 30. Ron Teki 63. Maraseba
31. Dungkul 32. Kelap Lintah 33. Sujen Anpel
34. Lar Ngata 35. Mayat Miring 36. Kanda Basuki
37. Putut Kembar 38. Mangkurat 39. Sinom
40. Kala Munyeng 41. Pinarak 42. Tilam Sari
43. Jalak Tilam Sari 44. Wora Wari 45. Marak
46. Damar Murub 47. Jaka Lola Sepang 48. Sepang
49. Cundrik 50. Cengkrong 51. Naga Tapa
52. Jalak Ngoceh 53. Kala Nadah 54. Balebang
55. Pundhak Sategal 56. Kala Dite 57. Pandan Sarawa
58. Jalak Barong atau Jalak Makara 59. Bango Dolok Leres
60. Singa Barong Leres 61. Kikik 62. Mahesa Kantong
63. Maraseba
Dapur Keris Luk 3 :
1. Jangkung Pacar 2. Jangkung Mangkurat 3. Mahesa Nempuh
4. Mahesa Soka 5. Segara Winotan 6. Jangkung
7. Campur Bawur 8. Tebu Sauyun 9. Bango Dolok
10. Lar Monga 11. Pudhak Sategal Luk 3 12. Singa Barong Luk 3
13. Kikik Luk 3 14. Mayat 15. Wuwung
16. Mahesa Nabrang 17. Anggrek Sumelang Gandring
Dapur Keris Luk 5 :
1. Pandawa 2. Pandawa Cinarita 3. Pulang Geni
4. Anoman 5. Kebo Dengen 6. Pandawa Lare
7. Pudhak Sategal Luk 5 8. Urap – Urap 9. Naga Salira
10. Naga Siluman 11. Bakung 12. Rara Siduwa
13. Kikik Luk 5 14. Kebo Dengen 15. Kala Nadah Luk 5
16. Singa Barong Luk 5 17. Pandawa Ulap 18. Sinarasah
19. Pandawa Pudak Sategal
Dapur Keris Luk 7 :
1. Carubuk 2. Sempana Bungkem 3. Balebang Luk 7
4. Murna Malela 5. Naga Keras 6. Sempana Panjul
7. Jaran Guyang 8. Singa Barong Luk 7 9. Megantara
10. Carita Kasapta 11. Naga Kikik Luk 7
14. Jamang Murub 15. Tumenggung
16. Pantrem 17. Sinom Worawari
18. Condong Campur 19. Kalamisani 20. Pasopati
21. Jalak Dinding 22. Jalak Sumelang Gandring
23. Jalak Ngucup Madu 24. Jalak Sangu Tumpeng
25. Jalak Ngore 26. Mundarang
27. Yuyu Rumpung 28. Mesem
29. Semar Tinandu 30. Ron Teki 63. Maraseba
31. Dungkul 32. Kelap Lintah 33. Sujen Anpel
34. Lar Ngata 35. Mayat Miring 36. Kanda Basuki
37. Putut Kembar 38. Mangkurat 39. Sinom
40. Kala Munyeng 41. Pinarak 42. Tilam Sari
43. Jalak Tilam Sari 44. Wora Wari 45. Marak
46. Damar Murub 47. Jaka Lola Sepang 48. Sepang
49. Cundrik 50. Cengkrong 51. Naga Tapa
52. Jalak Ngoceh 53. Kala Nadah 54. Balebang
55. Pundhak Sategal 56. Kala Dite 57. Pandan Sarawa
58. Jalak Barong atau Jalak Makara 59. Bango Dolok Leres
60. Singa Barong Leres 61. Kikik 62. Mahesa Kantong
63. Maraseba
Dapur Keris Luk 3 :
1. Jangkung Pacar 2. Jangkung Mangkurat 3. Mahesa Nempuh
4. Mahesa Soka 5. Segara Winotan 6. Jangkung
7. Campur Bawur 8. Tebu Sauyun 9. Bango Dolok
10. Lar Monga 11. Pudhak Sategal Luk 3 12. Singa Barong Luk 3
13. Kikik Luk 3 14. Mayat 15. Wuwung
16. Mahesa Nabrang 17. Anggrek Sumelang Gandring
Dapur Keris Luk 5 :
1. Pandawa 2. Pandawa Cinarita 3. Pulang Geni
4. Anoman 5. Kebo Dengen 6. Pandawa Lare
7. Pudhak Sategal Luk 5 8. Urap – Urap 9. Naga Salira
10. Naga Siluman 11. Bakung 12. Rara Siduwa
13. Kikik Luk 5 14. Kebo Dengen 15. Kala Nadah Luk 5
16. Singa Barong Luk 5 17. Pandawa Ulap 18. Sinarasah
19. Pandawa Pudak Sategal
Dapur Keris Luk 7 :
1. Carubuk 2. Sempana Bungkem 3. Balebang Luk 7
4. Murna Malela 5. Naga Keras 6. Sempana Panjul
7. Jaran Guyang 8. Singa Barong Luk 7 9. Megantara
10. Carita Kasapta 11. Naga Kikik Luk 7
Dapur Keris Luk 9 :
1. Sempana 2. Kidang Soka 3. Carang Soka
4. Kidang Mas 5. Panji Sekar 6. Jurudeh
7. Paniwen 8. Panimbal 9. Sempana Kalentang
10. Jaruman 11. Sabuk Tampar 12. Singa Barong Luk 9
13. Buto Ijo 14. Carita Kanawa Luk 9 15. Kidang Milar
16. Klika Benda
Dapur Keris Luk 11 :
1. Carita 2. Carita Daleman 3. Carita Keprabon
4. Carita Bungkem 5. Carita Gandu 6. Carita Prasaja
7. Carita Genengan 8. Sabuk Tali 9. Jaka Wuru
10. Balebang Luk 11 11. Sempana Luk 11 12. Santan
13. Singa Barong Luk 11 14. Naga Siluman Luk 11
15. Sabuk Inten 16. Jaka Rumeksa
Dapur Keris Luk 13 :
1. Sengkelat 2. Parung Sari 3. Caluring
4. Johan Mangan Kala 5. Kantar 6. Sepokal
7. Lo Gandu 8. Nagasasra 9. Singa Barong Luk 13
10. Carita Luk 13 11. Naga Siluman Luk 13 12. Mangkunegoro
13. Bima Kurdo Luk 13 14. Kalawelang Luk 13
Dapur Keris Luk 15 :
1. Carang Buntal 2. Sedet 3. Raga Wilah
4. Raga Pasung 5. Mahesa Nabrang 6. Carita Buntala Luk 15
Dapur Keris Luk 17 :
1. Carita Kalentang 2. Sepokal Luk 17 3. Kancingan
4. Ngamper Buta
Dapur Keris Luk 19 :
1. Trimurda 2. Karacan 3. Bima Kurda Luk 19
Dapur Keris Luk 21 :
1. Kala Tinanding 2. Trisirah 3. Drajid
Dapur Keris Luk 25
1. Bima Kurda Luk 25
Dapur Keris Luk 27
1. Taga Wirun
Dapur Keris Luk 29
1. Kala Wendu Luk 29
Berikut macam-macam keris yang tersebar di seluruh Indonesia[13]:
1. Jenis Semenanjung (jenis utara)
Jenis ini merupakan jenis dan macam keris yang ditemukan di daerah Melayu.
Sebagai peninggalan dari kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Adapun bentuk keris melayu ini dinamakan keris Ulu Dema m, mengacu pada bentuknya yang
mirip orang berpelukan karena demam. Sedangkan
ukiran keris ini didominasi ukiran bentuk persegi empat, khas ukiran jennis
semenanjung.
2.
Jenis Pekakak
Jenis Pekakak
Keris ini ulunya terbuat dari tanduk atau kayu yang kemudian dibentuk
seperti burung perkakak. Salah satu ciri khas da ri jenis perkakak ini adalah mata keris yang
lebih panjang dari mata keris pada umumnya. Keris pekakak bisa memiliki 31 luk
di mata kerisnya.
3. Keris Sumatra
Jenis iniemiliki khas pada mata, ulu dan
sarungnya. Keris model inimemiliki mata berbentuk tirus dan m emanjang ayng kemudian disebut keris panjang.
Da sebagian keris di Sumatra ayng bermata pendek adan kemudian dikenal keris
pendek atau pandak. Ulu keris ini berbentuk bengkok dengan ornament bunga-bunga
sebagai hiasan.
4. Keris Jawa
Jenis ini terlihat dari ciri khas pada ulunya yang
berbentuk melengkung seperti pistol. Biasanya keris model ini digunakan sebagai
keris pusaka di zaman
kerajaan-kerajaan di Jawa dahulua seperti
Majapahit. Keris-keris pusaka Jawa yang terkenal adalah keris di zaman kerajaan
Singasari buata empu Gandring. Pada keris Jawa terutama keris pusaka dipasang
cincin pada bagian ulu kerinsnya yang disebut dengan pendongkok.
kerajaan-kerajaan di Jawa dahulua seperti
Majapahit. Keris-keris pusaka Jawa yang terkenal adalah keris di zaman kerajaan
Singasari buata empu Gandring. Pada keris Jawa terutama keris pusaka dipasang
cincin pada bagian ulu kerinsnya yang disebut dengan pendongkok.
D. Fungsi Keris
Pada masa kini, keris memiliki fungsi yang beragam dan hal ini
ditunjukkan oleh beragamnya bentuk keris yang ada. Keris
sebagai elemen
persembahan sebagaimana
dinyatakan oleh prasasti-prasasti dari milenium pertama.
Pada masa kini, keris juga masih menjadi bagian dari sesajian.
Lebih jauh, keris juga digunakan dalam ritual/upacara mistik atau paranormal. Keris
disebut-sebut sebagai benda yang punya kekuatan mistik dan bahkan bisa
berdiri.
Keris untuk penggunaan semacam ini memiliki bentuk berbeda, dengan
pesi menjadi hulu keris, sehingga hulu menyatu dengan bilah keris. Keris
semacam ini dikenal sebagai keris sesajian atau "keris
majapahit"(tetapi tidak sama dengan keris tangguh Majapahit).
Media massa sering mengidentikkan keris semacam ini
dengan"seram", "dukun", "klenik", "ilmu
hitam", dan lain-lain.padahal didalam ilmu pembuatannya itu adalah wesi
aji,dan dengan itu kita tahu bahwa leluhur kita amat cakap dalam ilmu gravitasi
serta fisika dan jauh dari kata "musyrik". Alih-alih menyebarluaskan pandangan yang benar tentang
wesi aji,media massa malah melakukan"bunuh diri budaya"."Penghalusan"
fungsi keris tampaknya semakin menguat sejak abad ke-19 dan seterusnya, sejalan
dengan meredanya gejolak politik di Nusantara dan menguatnya penggunaan senjata
api. Dalam
perkembangan ini, peran keris sebagai senjata berangsur-angsur berkurang.
Sebagai contoh, dalam idealisme Jawa mengenai seorang laki-laki "yang
sempurna", sering dikemukakan bahwa keris menjadi simbol
pegangan ilmu/keterampilan sebagai bekal hidup. Berkembangnya tata krama
penggunaan keris maupun variasi bentuk sarung keris(warangka) yang dikenal sekarang
dapat dikatakan juga merupakan wujud penghalusan fungsi keris. 

Pada masa kini, kalangan perkerisan Jawa selalu melihat
keris sebagai tosan aji atau "benda keras (logam) yang luhur", bukan
sebagai senjata. Keris adalah
dhuwung, bersama-sama dengan tombak; keduanya dianggap sebagai benda
"pegangan" (ageman) yang diambil daya keutamaannya dengan mengambil
bentuk senjata tikam pada masa lalu. Di Malaysia, dalam kultur monarki yang
kuat, keris menjadi identitas kemelayuan.
Tata
cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan
Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai
tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Penempatan keris di depan dapat
diartikan sebagai kesediaan untuk bertarung. Selain itu, terkait dengan fungsi,
sarung keris Jawa juga memiliki variasi utama: gayaman dan ladrang. Sementara
itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di
depan dalam upacara-upacara kebesaran.[14]
Pada
masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus
sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih
merupakan benda aksesori (ageman)
dalam berbusana,
memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari
segi estetikanya.[15]
Selain itu pula, fungsi keris secara ideofak yaitu:
1.
Keris dan Spiritualitas-Religiusitas Masyarakat Islam
Keris dianggap sebagai pertemuan antara antara sang guru
bakal (pasir besi dari bumi) dan guru dadi (batu meteor yang jatuh
dari langit) sehingga merupakan satu komponen yang mendasar dari bersatunya
hamba dan Tuhannya (curigo manjing warongko jumbuhing kawula lan gusti)
sebagai sarana sesaji hingga saat ini masih dapatdilihat pada upacara-upacara
keagamaan di Jawa dan Bali. Memang keris tak lepas dari nilai spiritual tetapi
keris selalu diciptakan oleh sang empu untuk hal yang baik. Ada yang berfungsi
supaya omongan (pembicaraan) selalu dipercaya oleh orang, menambah
kewibawaan, memperoleh rizqi dan sebagainya.[16] Dan tidak segan-segan mereka yang percaya
bahwa di dalam keris ada isinya, mereka akan memberi sesaji.
2.
Esoteri Keris
Keris menjadi medium ekspresi kesenian. Keris diciptakan
atas dasar kaodah-kaidah keindahan di mana sang empu berkreasi lewt daur dan
pamornya.
3.
Motivasi Psikologis dalam Keris
Keris memiliki kekuatan motivasi yang
mempengaruhi perilaku. Keris merupakan sebuah aturan/norma/angger-angger yang
tervisual. Sehingga keris mampu mempengaruhi prilaku pemiliknya. Seseorang
menjadi pemberani karena memiliki keris pasopati misalnya dalam babad tanah
Jawi diceritakan keberanian Arya Penangsang dengan keris setan kobernya.[17]
III.
ANALISIS
Dari beberapa penjelasan yang ditujukan untuk
menjawab rumusan masalah di atas, dapat kita analisis bersama. Bahwa asal usul
kapan yang pasti dan tepat awal dan sumber terbuatnya keris dari teori-teori
baik yang disampaikan oleh orang Barat maupun Indonesia sendiri belum ada titik
temu. Walaupun dalam sudah diadakan penelitian dari berbagai sumber. Misal
dalam bentuk candi dan pahatan-pahatan
yang menyertainya. Sedangkan makna filosofis yang terkandung dalam keris
itu sendiri ada banyak, diantaranya keris sebagai pegangan yang diyakini menambah kewibawaan dan rasa percaya diri, sebagai
senjata,dan wujud keris yang lurus maupun ber-lekuk memiliki makna masing-masing, keris
(berlekuk) adalah simbol kebijaksanaan. Untuk Macam-macam keris, dapat ditinjau
dari dapur, pamornya maupun asal daerah dari keris tersebut. Dan Fungsi
keris sekarang ini tidak hanya sebagai senjata saja. Tetapi keris lebih merupakan benda aksesori (ageman)
dalam berbusana,
memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari
segi estetikanya. Dapat dilihat sendiri, dalam acara ernikahan yang
dilkukan oleh orang Jawa, bagi pengantin laki-laki di busananya disertai adanya
keris juga.
IV.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Mudra, M.
Keris dan Budaya Melayu, (Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan
Budaya Melayu, 2004).
Harsrinuksmo B. 1985. Tanya Jawab Soal Keris. Pusat Keris
Jakarta. Jakarta.
Kusni. 1979. Pakem. Pengetahuan tentang Keris. C.V. Aneka.
Semarang
Lumintu. 1985. Besi, Baja, dan Pamor Keris. Pusat Keris
Jakarta. Jakarta.
Pamungkas. Ragil. Mengenal Keris: Senjata”Magis”Masyarakat
Jawa.(Yogyakarta:Penerbit NARASI, 2007).
Yuwono. Basuki Teguh. “ Sembilan Fungsi dan Peran Keris
dalam Masyarakat”. Dalam Journal/Item/4.
Indokeris. Sejarah keris di Indonesia.http://indokeris.blogspot.com/2013/01/sejarah-keris-di-indonesia.html
5:16 5/21/13
Fauzi.Rachmad.Keris-Sebagai-Warisan-Budaya.http://rachmad-uzi.blogspot.com/2011/06/keris-sebagai-warisan-budaya.html
6:00 5/21/2013
Rony
Setio Aji. Makna dan Filosofi Keris Dalam Budaya Jawa http://www.timlo.net/baca/77/makna-dan-filosofi-keris-dalam-budaya-jawa/ 12:30 24/05/2013
Syirfan. Keris Sebuah Kajian.http://syirfan.wordpress.com/15:20.
5/21/13
http://id.wikipedia.org/wiki/Keris.14:40 25/05/2013
Budaya Melayu, 2004).
[2] Pallawa adalah jenis tulisan kuno, Dewanagari. Melihat bentuk
tulisan yang tertera tersebut, maka dapat kita perkirakan bahwa prasasti
tersebut dibuat pada sekitar tahun 500
Masehi.http://syirfan.wordpress.com/2008/04/11/keris-sebuah-kajian/
[5]Nama hulu keris terkenal di semenanjung Malaka, Riau,
Jambi, Serawak, Brunei dan Sabah. Terbuat dari kayu keras, gading atau perak. Bentuknya
menyerupai kepala raksasa dengan mata besar dan hidung panjang yang distilir.
Di pulau Jawa bentuk ini dijumpai juga di daera Surakara dan disebut
Rajamala.(ensiklopedia keris)
[7]Rony Setio Aji. Makna dan
Filosofi Keris Dalam Budaya Jawa http://www.timlo.net/baca/77/makna-dan-filosofi-keris-dalam-budaya-jawa/ 12:30 24/05/2013
[8]
Kusni. 1979. Pakem. Pengetahuan tentang Keris. C.V. Aneka. Semarang.
Hal. 91.
[9]
Lumintu. 1985. Besi, Baja, dan Pamor Keris. Pusat Keris Jakarta.
Jakarta. Hal. 3.
[10]
Harsrinuksmo B. 1985. Tanya Jawab Soal Keris. Pusat Keris Jakarta.
Jakarta. Hal. 30.
[11]Wongalus.FILOSOFI KERIS.http://wongalus.wordpress.com/2013/04/09/filosofi-keris/13:45
24/05/2013
Penerbit NARASI, 2007). Hal.218
[17]Basuki Teguh Yuwono. “ Sembilan Fungsi dan Peran Keris
dalam Masyarakat”. Dalam
Journal/Item/4. (24 Mei 2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar